Jombang (20/08/26) – Kondisi jalan yang mengalami kerusakan dapat ditandai dengan berbagai bentuk retakan pada permukaan perkerasan. Setiap jenis retak memiliki karakteristik, penyebab, serta kebutuhan penanganan yang berbeda. Melalui informasi ini, masyarakat diharapkan dapat mengenali jenis kerusakan jalan sekaligus memahami pentingnya penanganan yang disesuaikan dengan kondisi perkerasan.
Berdasarkan Manual Desain Perkerasan Jalan (MDP) 2024, beberapa jenis retak yang dapat dijumpai pada perkerasan jalan antara lain retak kulit buaya, retak memanjang, retak melintang, retak refleksi sambungan, dan retak aktif. MDP 2024 merupakan panduan Direktorat Jenderal Bina Marga dalam perancangan dan pelaksanaan perkerasan jalan, termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi.
1. Retak kulit buaya (alligator cracking) merupakan rangkaian retak yang saling berhubungan pada permukaan lapis beton aspal sehingga membentuk pola menyerupai kulit buaya. Kerusakan ini berkaitan dengan keruntuhan lelah akibat beban kendaraan yang berulang. Pada kondisi yang cukup parah, penanganan perlu mencakup perbaikan lapisan di bawah permukaan untuk menjaga integritas struktural perkerasan.

2. Retak memanjang (longitudinal cracking) adalah retak yang sejajar dengan sumbu jalan atau arah penghamparan. Retak ini dapat disebabkan oleh sambungan memanjang yang kurang baik, penyusutan lapis beton aspal akibat temperatur rendah atau penuaan aspal, siklus temperatur harian, maupun retak dari lapisan di bawah permukaan.

3. Retak melintang (transverse cracking) terjadi pada arah lebar perkerasan dan hampir tegak lurus terhadap sumbu jalan atau arah penghamparan. Menurut MDP 2024, retak melintang biasanya tidak berkaitan dengan beban lalu lintas sehingga penyebabnya perlu dianalisis berdasarkan kondisi perkerasan.

4. Retak refleksi sambungan (joint reflection cracking) merupakan retak pada lapis beton aspal yang berada di atas perkerasan kaku bersambung. Retak tersebut berkaitan dengan pergerakan pelat beton akibat perubahan temperatur atau kadar air. Untuk mengendalikan perkembangan retak refleksi, MDP 2024 mencantumkan beberapa pendekatan, antara lain perbaikan atau penggantian lapisan yang retak, penambahan tebal lapis tambah, serta penggunaan Stress Absorbing Membrane Interlayer (SAMI) dan geotekstil.

5. Retak aktif (working crack) merupakan retakan yang mengalami pergerakan 3 mm atau lebih dalam kurun waktu tertentu dan dapat menunjukkan perubahan arah, lebar, atau kedalaman akibat beban pada jalur roda. Pada perkerasan beton, tipe penanganannya antara lain perbaikan full depth atau penggantian pelat.

Dalam pelaksanaan penanganan, kondisi kerusakan perlu terlebih dahulu dikaji melalui survei kondisi perkerasan. MDP 2024 menegaskan bahwa kebutuhan perbaikan sebelum pelapisan tambah ditentukan berdasarkan jenis, tingkat, dan luas kerusakan serta jenis pelapisan yang dipilih. Kerusakan yang berpotensi memengaruhi kinerja perkerasan perlu ditangani terlebih dahulu untuk mencegah terjadinya kerusakan dini pada lapisan baru.
Sejalan dengan hal tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Jombang terus berupaya melakukan penanganan terhadap kerusakan jalan yang menjadi kewenangan Kabupaten Jombang secara bertahap, tepat sasaran, dan berkelanjutan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, tingkat kerusakan, skala prioritas, serta kemampuan anggaran.
Melalui pemahaman yang lebih baik mengenai jenis dan karakteristik kerusakan jalan, diharapkan masyarakat turut berperan dalam menjaga infrastruktur jalan serta menyampaikan informasi mengenai kondisi jalan di lingkungan sekitarnya melalui kanal pengaduan yang tersedia.
Sumber: Manual Desain Perkerasan Jalan (MDP) 2024 – Surat Edaran Direktur Jenderal Bina Marga Nomor 15/SE/Db/2024.
Klik link di bawah ini untuk melihat informasi tersebut pada postingan media sosial.
https://www.instagram.com/reel/DcKvtwfKOqt/?igsh=NXVzbmt3aGZ5eGVv
https://vt.tiktok.com/ZSVDdMChq/